Favorit Iga Daebak

Showing posts with label Al-Quran adalah. Show all posts

Syukur Nikmat Dalam Islam

By : Iga Daebak


 

WELCOME TO

Iga Daebak  

( ^_^ ) 

 

Syukur Nikmat

Allah mengurniakan rezeki kepada sesiapa sahaja yang dikehendaki-Nya kerana Allah bersifat Maha Pemurah, tinggal lagi kita sebagai hamba-Nya hendaklah sentiasa berusaha mencari rezeki, berdoa kepada-Nya moga dipermudahkan rezeki itu dan bersyukur dan redha atas nikmat yang diberi. Jika dihitung nikmat Allah nescaya kita tidak dapat menghitung. Nikmat Allah terlalu luas. Carilah rezeki Allah dimana2 sahaja..asalkan yang baik lagi halal. Rezeki yang diberkati adalah rezeki yang terhadapnya kita sentiasa merasa cukup malah boleh lagi memberi dan bersedekah dan menggunakannya pada jalan bermanfaat yang lain . Orang yang merasa cukup adalah orang yang bersyukur. Jadilah hamba-Nya yang sentiasa bersyukur..jgn pula mecontohi kisah Qarun yang diceritakan di dalam al-Quran sebagai orang yang kufur nikmat. Qarun begitu angkuh dengan harta yang dikurniakan Allah kepadanya. Di dalam Quran Allah menceritakan

"Qarun berkata, "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu kerana ilmu yang ada padaku"....."[Surah al-Qasas: 78]

Begitu angkuh kata-kata Qarun..Akibat sifat angkuh dan sombong Qarun terhadap nikmat berupa harta yang diberi Allah, Allah membalas dengan azab-Nya yang pedih.

"Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam Bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah, dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)" [Surah al-Qasas: 81].

Marilah sama-sama mengambil pelajaran dari kisah Qarun yang terang-terangan diceritakn melalui kalam Allah.

" ..Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan kurnia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)" [Surah al-Qasas: 82]

'Ya Allah..ya Allah..ya Allah..Tuhan yang Mengurniakan rezeki, limpahilah kami dengan rezeki-Mu dan jadikalah kami hamba-Mu yang sentiasa mensyukuri nikmat-Mu'
Dan ingatlah tatkala Tuhannu memaklumatkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”” (Surah Ibrahim:7)
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah atas nikmat iman, nikmat sehat, nikmat umur, nikmat ukhuwah, serta nikmat lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu, sehingga kita dapat dipertemukan dalam acara tasyakuran ini, yang mudah-mudahan Allah mencatat segala langkah ibu dan bapak sekalian untuk hadir di sini, sebagai pemberat timbangan kebaikan di hari akhirat kelak.
Salawat dan salam juga kita sampaikan kepada Rasulullah SAW, tauladan kehidupan kita, kepada keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya yang senatiasa berupaya melaksanakan segala syariatnya.

Maha Suci Allah yang ditangan-Nya segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang telah menciptakan langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat ciptaan Allah yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang, maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?” (Al Mulk: 1-3)
Tujuan Allah menciptakan kehidupan dan kematian adalah untuk menguji hamba-hamba-Nya siapa diantaranya yang baik amal perbuatannya selama di dunia (ahsanu ‘amala). Syarat diterimanya suatu amalan adalah :
1. Niat semata-mata mencari ridho Allah,
2. Caranya sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah Rasul.
Allah menggunakan berbagai cara untuk menguji keimanan kita selama di dunia ini. Ujian dapat dalam bentuk kenikmatan, kebahagiaan, kesenangan, jabatan, dll, juga dapat berupa kekurangan, ketakutan, kesedihan, kemiskinan, dll.
Allah menguji kita bukan berarti Allah ingin menelantarkan kita, akan tetapi ini merupakan bentuk Maha Penyayangnya Allah kepada kita, karena Allah ingin menakar kualitas penghambaannya agar hamba-hamba-Nya masuk ke dalam Syurga. Seperti halnya ujian yang kita hadapi ketika akan menaiki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, agar kita meraih jenjang tersebut.
Jadi hakekat menghadapi kehidupan di dunia ini sesungguhnya hanya dengan 2 S saja, yaitu sabar dan syukur, karena Allah senantiasa akan menguji kita berupa kesusahan dan kesenangan. Sabar berarti menahan diri dari membenci atas Takdir-Nya, dan menahan lisan dari keluh kesah, serta menahan anggota badan dari perbuatan maksiat.. Dan syukur berarti menempatkan seluruh pemberian Allah pada diri kita sesuai dengan kehendak/keinginan Allah.
Ada pendapat ulama yang mengatakan sabar lebih utama dari syukur, dan ada juga yang berpendapat syukur lebih utama dari sabar. Sementara itu Umar bin Khattab berkata, “ Seandainya sabar dan syukur itu berupa 2 ekor unta, maka aku tidak peduli mana diantaranya yang akan aku naiki”. Ini berarti kedudukan sabar dan syukur sama pentingnya, juga seperti sabda rasulullah SAW,” Pemberi makan yang bersyukur ialah setingkat dengan orang berpuasa yang bersabar” (Al Bukhari, At Tirmidzi, Ibnu Majjah). Meskipun dalam Al Qur’an lebih banyak kita temukan ayat-ayat tentang sabar dari pada ayat-ayat tentang syukur, namun dari sisi bobotnya sama, misalnya :
Apabila kamu bersyukur, maka benar-benar akan Aku tambah nikmat (kepada kalian)…” (Ibrahim: 7).
Dan sesunggguhnya Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah kamu kerjakan”. (An Nahl: 96).
Sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini tidak terlepas dari Qodho (Ketetapan) dan Qodar (kehendak) Allah. Hal ini sudah tercermin dalam salah satu rukun iman kita, yaitu percaya kepada Qodho dan Qodar Allah. Hanya dengan sekedar percaya saja kita sudah dapat dikatakan beriman. Namun apakah kita semua sudah cukup puas hanya dengan percaya saja? Tentunya bila kita menginginkan iman kita lebih baik lagi, maka bukan hanya mempercayainya saja, namun kita menyikapi qodho dan qodar itu dengan bersabar dan bersyukur. 
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami, melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (At Taubah:51).
Ketetapan dan kehendak Allah ada 2 jenis:
1.      Ketetapan dan kehendak Allah terhadap diri kita dan alam semesta
Terhadap diri kita dan alam semesta dapat berupa nikmat maupun musibah. Kita tidak pernah tahu sebelumnya kapan nikmat dan musibah tersebut akan terjadi terhadap diri kita, dan biasanya kita baru dapat mengetahuinya setelah kejadian, dan itu yang disebut dengan takdir. Namun takdir yang akan terjadi terhadap alam semesta (sunnatullah = hukum alam) dapat diprediksi dengan menggunakan kemajuan teknologi. Sehingga manusia dapat menghindarinya dari musibah bencana alam. Contoh: Halilintar, tsunami, gempa bumi. Bila menghadapi musibah maka disunnahkan untuk menyebut “Inna lillaahi wa inna ilaihi roojiuun”
2.      Ketetapan dan kehendak Allah dari diri kita
Yaitu berupa ketetapan syar’i yang tidak dapat dirubah lagi oleh manusia. Contoh: Aturan sholat, haji, dll.
Bila semuanya sudah menjadi ketentuan Allah apa yang harus kita perbuat? Yaitu dengan doa, karena hanya dengan do’a kita dapat memohon kepada Allah agar dihindari dari segala takdir yang buruk.
Aku mengabulkan permohonan orang-orang yang berdo’a, apabila ia memohon kepada-Ku, hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran” (Al Baqarah: 186)
Jadi pada hakekatnya seluruh do’a kita akan dikabulkan Allah, namun tergantung dari kita apakah kita sudah memenuhi segala perintah-Nya atau belum. Do’a dapat Allah kabulkan dalam beberapa cara:
  1. Dikabulkan secara tunai.
  2. Diganti dengan yang lebih baik
  3. Ditunda
  4. Dibalas di akhirat
Sesungguhnya apapun yang kita kerjakan maka tidak akan mepengaruhi kedudukan Allah. Kita bersyukur manfaatnya tidak kembali kepada Allah, ingkar (kufur) juga mudhorotnya tidak kembali kepada Allah, melainkan kepada kita sendiri.
Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.” (Al Isra’: 7) 
Bersyukur atas nikmat adalah bukti bagi lurusnya keimanan dalam jiwa manusia. Dan orang yang bersyukur kepada Allah akan selalu merasakan muroqobatullah (Kebersamaan Allah) dalam mendayagunakan kenikmatan-Nya, dengan tidak disertai pengingkaran, perasaan menang dan unggul atas makhluk lainnya, dan penyalahgunaan nikmat.
Mensyukuri nikmat yaitu dengan mengungkapkan rasa kesyukuran dengan 3 azaz:
  1. Mengakui di dalam bathin
  2. Mengucapkannya dengan lisan,
  3. Menggunakan nikmat sesuai dengan kehendak pemberi nikmat. 
Manfaat syukur:
  1. Mensucikan jiwa
  2. Mendorong jiwa untuk beramal sholeh dan mendayagunakan kenikmatan secara baik melalui hal-hal yang dapat menumbuhkembangkan kenikmatan tersebut.
  3. Menjadikan orang lain ridho dan senang kepada jiwa itu dan kepada pemiliknya, sehingga mereka mau membantu dan menolongnya.
  4. Memperbaiki dan melancarkan berbagai bentuk interaksi dalam sosial masyarakat, sehingga harta dan kekayaan yang dimiliki dapat terlindung dengan aman.

 

 Terima Kasih atas Kunjungannya
Semoga Bermanfaat ^_^
KEEP SUPPORT US... untuk pertanyaan dan komen silakan isi pada kolom di bawah
IGA DAEBAK THIS IS DAEBAK!!!
pls give us feedback dengan like atau komen terima kasih ^_^
enjoyy!!! 


Pengertian Agama Islam

By : Iga Daebak


 

WELCOME TO

Iga Daebak  

( ^_^ ) 



                 Pengertian Agama Islam

Agama Islam adalah agama Allah yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw. sehingga untuk mengerti / memahami Islam haruslah bersandar kepada informasi dari Allah (Al Quran) dan Nabi Muhammad saw (Hadits). Hanya Sang Pembawa Risalah (Nabi) yang berwenang memberi pengertian tentang agama yang dibawanya. Penilaian seseorang terhadap sesuatu sangat tergantung kepada pengetahuan dan pemahaman orang tersebut kepada sesuatu yang dinilainya. Dalam Al Qur'an Allah berfirman: " wa ma utiitum minal 'ilmi illa qaliilaa " (dan tidaklah Aku memberikan ilmu kepada manusia kecuali sedikit), juga firmanNya yang lain: " innahu kaana dzaluuman jahuula " (sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan bodoh). Oleh karenanya, manusia itu perlu diberi petunjuk dan dibimbing. Allah memberi petunjuk melalui RasulNya, dan Rasul itulah yang memberi bimbingan kepada manusia berdasar wahyu Allah. Manusia diciptakan oleh Allah dan Allah pula yang mengurusnya, bahkan seluruh alam ini. Dengan demikian Islam adalah agama sejak adanya manusia dan syariatnya (aturannya) terus berkembang sesuai perkembangan zaman, hingga akhirnya Allah menyempurnakan agama Islam dengan syariat yang dibawa oleh RasulNya (Muhammad saw) sebagai penutup nabi dan Rasul sebelumnya dan tidak ada lagi nabi maupun Rasul yang diutus sesudahnya. Dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 3 Allah berfirman: "Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan nikmatKu atasmu dan telah kuridhoi Islam menjadi agamamu". Itulah Agama Allah yakni Islam, agama yang sempurna, yang tidak ada keraguan atasnya. dan barangsiapa yang beragama selain agama Islam maka tidak akan diterima oleh Allah karena agama tersebut bukan Agama Allah.

Pemahaman Secara Historis

Dalam memahami sebuah agama maka kita harus juga mengetahui bagaimana historis sejarahnya secara lebih mendalam dan luas. Dalam ajaran Islam menyebutkan adanya keterkaitan antara Islam dan agama Yahudi bahkan mengatakan bahwasanya Allah Nabi Ibrahim adalah Allah dalan ajaran Islam. Nabi Ibrahim merupakan bapak daripada ajaran Yahudi karena anak Ibrahim mempunyai anak bernama Ishak yang kemudian mempunyai anak bernama Yakub yang kemudian menjadi Bapak 12 suku bangsa yang dikenal dengan Yahudi saat ini.
Dalam Al Quran dan Hadits juga selalu menceritakan bangsa Yahudi melalui pengalaman Nabi Musa dengan Allah nya yaitu Jehovah. Jadi seharusnya Allah Yahudi adalah sama dengan Allah Islam.
Lebih jauh lagi Nabi Muhammad juga sebelum menjadi Nabi menikah dahulu dengan istrinya yang pertama Khadijah yang diyakini sebagai penganut ajaran monotheisme Kristen. Nabi Muhammad hanya mempunyai istri Khadijah selama 20 tahun sebelum menerima Kerasulannya dan baru setelah Khadijah meninggal maka mulai dikenal Poligami. Khadijah sangat berperan besar dalam memberikan pengetahuan ajaran monotheisme kepada Nabi Muhammad.











 Terima Kasih atas Kunjungannya
Semoga Bermanfaat ^_^
KEEP SUPPORT US... untuk pertanyaan dan komen silakan isi pada kolom di bawah
IGA DAEBAK THIS IS DAEBAK!!!
pls give us feedback dengan like atau komen terima kasih ^_^
enjoyy!!!

DARI IBADAH INDIVIDUAL MENUJU IBADAH KEMANUSIAAN

By : Iga Daebak


 

WELCOME TO

Iga Daebak  

( ^_^ )  

 



DARI IBADAH INDIVIDUAL
MENUJU IBADAH KEMANUSIAAN


Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Di negara ini terdapat lebih dari 700 ribu masjid dan jutaan mushalla (tempat shalat/masjid kecil) yang bertebaran di desa-desa bahkan di tempat-tempat pendidikan dan pusat-pusat perbelanjaan. Pada setiap bulan Ramadan tempat-tempat ibadah tersebut ramai dihadiri kaum muslimin untuk mengikuti salat tarawih. Mereka juga menyambut bulan ramadhan ini dengan berpuasa sebulan penuh. Sebagian mereka pada malam hari sesudah tarawih, mengadakan “tadarrus” (membaca al Qur-an) bersama-sama dan berbagai macam shalat sunnah qiyam al lail. Dan pada akhir ramadhan mereka berbondong-bondong dan serentak membayar kewajiban zakatnya. Pada musim haji, setiap tahun jumlah kaum muslimin yang menunaikan ibadah haji lebih dari dua ratus ribu orang dan selalu menempati posisi terbesar di dunia bahkan sampai melebihi quota yang diberikan.
Fenomena ritualistik di atas seringkali memberikan kesan umum bahwa masyarakat muslim di Indonesia adalah masyarakat yang taat beragama sekaligus masyarakat dengan individu-individu yang saleh. Dalam banyak tradisi, kesalehan individual ini menjadi ukuran tingkat kwalitas keberagamaan seseorang. Dengan kata lain intensitas seseorang dalam menjalankan ritus-ritus agama menunjukkan tingginya nilai kesalehan atau kebaikan pribadinya.
Secara normative keadaan ini seharusnya melahirkan realitas-realitas social yang saleh pula. Akan tetapi apa yang terjadi dalam realitas Indonesia sampai hari ini adalah sebuah kondisi yang sungguh sangat menyedihkan. Praktek hidup dan berkehidupan masyarakat memperlihatkan kondisi yang berlawanan dengan norma-norma agama. Realitas Indonesia adalah bangsa dengan kemiskinan yang besar sekaligus dengan tingkat korupsi paling tinggi di dunia. KKN merajalela di mana-mana. Realitas social juga menunjukkan kondisi moralitas yang hancur. Kekerasan social dan keagamaan, kekerasan seksual, pembunuhan, konflik berdarah, narkoba dan sejumlah pelanggaran terhadap hak-hak asasi manusia semuanya terjadi hampir setiap hari dan di banyak tempat.
Kesimpulan yang mudah kita terima adalah bahwa perilaku masyarakat muslim memperlihatkan wajah-wajah yang paradoks. Ibadah individual seperti shalat, puasa, zakat, haji, membaca al Qur-an, berzikir, istighatsah dan sejenisnya yang bergemuruh itu ternyata tidak atau belum merefleksikan makna kesalehan sosial yang berarti dalam kehidupan masyarakat muslim. Adakah yang salah dalam pemahaman masyarakat terhadap makna ibadah yang diajarkan agamanya?
Makna Ibadah
Ibadah dalam pengertian yang mudah ditangkap oleh masyarakat muslim seringkali mengambil pengertian yang lebih khusus : pengabdian kepada Tuhan dalam bentuknya yang palingpribadi yakni ritus-ritus sebagaimana di atas.
Orang sering menyebutnya dengan istilah ibadah mahdhah. Ketika disebut ibadah maka yang tergambar adalah shalat, puasa, zakat, haji, zikir dan membaca al Qur-an. Pemahaman ini tentu saja mereduksi secara besar-besaran makna ibadah dalam pengertiannya yang genuine. Ketika Allah menyatakan bahwa “jin dan manusia diciptakan untuk beribadah kepada-Nya” (Q.S. Al Dzaariyat, dan “semua utusan Tuhan diperintahkan untuk mengajak maniusia beribadah kepada Allah” (Q.S. Al Bayyinah, ), maka makna ibadah tersebut tidak mungkin hanya berarti shalat, puasa, zakat, haji, berzikir, membaca al Qur-an dan sejenisnya. Ini karena kehidupan tidak mungkin hanya untuk berurusan dengan hal-hal tersebut, melainkan untuk hal-hal yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek yang dibutuhkan manusia seperti berdagang, bertani dan bekerja, mencari ilmu dan sebagainya guna mempertahankan dan mengembangkan kehidupan itu sendiri. Jamal al Banna menyimpulkan bahwa ibadah adalah seluruh tindakan amal yang dicintai Tuhan. (Nahwa Fiqh Jadid, hlm. 64). Al Dailami, mengutip ucapan Hasan bin Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Ada 70 pintu ibadah, dan yang paling utama adalah mencari kehidupan (rizki) yang halal”.(Kasyf al Khafa II/53). Adalah juga niscaya bahwa orang tidak bisa hidup sendiri dan tanpa orang lain yang membantu dan menolong. Karena itu tolong menolong dan kerjasama antara individu dan antar masyarakat, membantu orang-orang miskin dan orang-orang yang tertindas, menegakkan keadilan, mendirikan pemerintahan yang bersih dan sebagainya merupakan hal-hal yang niscaya dan menjadi missi keagamaan dalam Islam.

Ibadah adalah membebaskan manusia
Pada sisi lain sebagaimana diketahui bersama bahwa kehadiran agama yang dibawa para utusan Tuhan sejatinya dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari system social yang menindas atas nama kekuatan maupun kekuasaan apapun yang biasanya dikonstruksi oleh kebudayaan masyarakat. Inti ajaran agama Islam adalah Tauhid. Ini berarti bahwa hanya Allah saja, Tuhan Yang Maha Besar, Maha Tinggi dan Maha Absolut. Dengan begitu maka hanya Allah juga satu-satunya yang patut disembah dan seluruh makhluk (ciptaan Tuhan) menyembah atau mengabdikan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Tuhan sendiri menyatakan hal ini dalam Al Qur-an : “Katakanlah sesungguhnya shalatku, nusukku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah. Tidak ada sekutuk bagiNya dan karena itulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang pertama menyerahkan diri (kepada-Nya)”.(Q.S. Al An’am, 162-163).
Atas dasar ini, maka substansi ibadah (pengabdian) kepada Tuhan seharusnya merefleksikan fungsi-fungsi pembebasan manusia atas manusia yang lain dari struktur social yang menindas dan menzalimi di satu sisi dan menegakkan kebenaran, keadilan dan kemakmuran manusia di sisi yang lain. Fungsi-fungsi ini disebut oleh al Qur-an dengan fungsi kekhalifahan manusia di muka bumi.(Q.S. Al Baqarah, ayat 30). Bentuk-bentuk pengabdian kepada Tuhan secara personal atau ibadah individual sesungguhnya merupakan cara menghadirkan Tuhan dalam diri masing-masing muslim dan menanamkan kesadaran kepada mereka akan fungsinya sebagai hamba Tuhan untuk pada gilirannya mampu merefleksikan dan mengaktualisasikan fungsi-fungsi tersebut di atas dalam kehidupan mereka sehari-hari. Ibadah personal dengan begitu sesungguhnya tidak dimaksudkan untuk dirinya sendiri melainkan untuk kepentingan social dan kemanusian yang lebih luas. Dalam bahasa al Qur-an, Islam dengan seluruh perangkat aturannya dihadirkan untuk manusia dan untuk mewujudkan kerahmatan dan kemaslahatan (kebaikan/kesalehan) mereka. Inilah sejatinya makna ibadah dalam Islam.
Effek ganda Ibadah individual

Teks-teks agama yang berkaitan dengan urusan ibadah individual selalu memperlihatkan fungsi dan tugas ganda. Pada satu sisi ia merupakan cara manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, membersihkan hati dan membebaskan diri dari ketergantungannya kepada selain Tuhan, tetapi pada saat yang sama ia menyatakan tuntutannya kepada manusia untuk melakukan tanggungjawab social dan kemanusiaan.
Dalam hal shalat misalnya, al Qur-an menyatakan : “Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku”. Dengan kata lain shalat adalah sarana menghadirkan Tuhan dalam diri setiap individu. Kesadaran akan kehadiran Tuhan akan menjadikan manusia selalu menjalani hidupnya dengan kebaikan-kebaikan dan menjauhi keburukan-keburukan. Hal ini ditegaskan pada ayat al Qur'an yang lain, yang menyatakan bahwa : “Sesunguhnya shalat mencegah manusia dari berbuat keburukan dan kemunkaran”. Pernyataan paling jelas diungkapkan dalam surah al Ma’un : “Apakah kamu mengetahui orang yang mendustakan agama?. Itulah orang yang tidak perduli terhadap anak yatim, tidak memberikan makan kepada orang miskin. Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, yakni orang yang riya dan orang yang tidak mau memberikan sesuatu yang berguna (bagi orang lain)”.
Puasa disamping merupakan proses menghadirkan Tuhan ke dalam diri, ia juga merupakan cara bagi diri manusia untuk dapat mengendalikan kecenderungan-kecenderungan egonya yang seringkali menuntut dan mendesakkan kehidupan hedonistic (inna al nafsa laammarah bi al suu). Al Qur-an sendiri menyatakan dengan sangat jelas bahwa puasa ramadhan diwajibkan kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan sebagai cara untuk membentuk dan melahirkan pribadi-pribadi yang bertaqwa.(Q.S. Al Baqarah 183). Pribadi yang bertaqwa adalah pribadi yang selalu menjaga diri dari menyakiti orang lain, menghalangi dan merampas hak-hak orang lain pada satu sisi, dan pribadi yang menyayangi, mengasihi dan menghormati hak-hak orang lain.
Zakat dinyatakan oleh Nabi sebagai cara membersihkan diri dari kesalahan dan dosa, tetapi juga aksi pemberian makan bagi orang-orang miskin dan orang-orang yang menanggung beban hidup yang berat, yang tertindas dan yang menderita lainnya. Nabi mengatakan : "Zakat fitrah diwajibkan guna membersihkan hati orang yang berpuasa dan memberi makan kepada orang-orang yang miskin". Dalam bahasa yang lebih umum zakat merupakan bentuk paling nyata pribadi-pribadi muslim untuk mewujudkan solidaritas social dan kemanusiaan.
Haji di samping dimaksudkan sebagai bentuk penyerahan diri secara total kepada Tuhan dan tanpa reserve, ia juga merupakan melambangkan kesatuan, kesetaraan dan persaudaraan umat manusia sedunia.
Dengan begitu menjadi jelas bahwa kesalehan individual selalu menuntut lahirnya efek-efek kesalehan social. Ketika ritus-ritus personal tersebut (ibadah individual) tidak melahirkan efek kesalehan social dan kemanusiaan, apalagi melahirkan sikap-sikap hidup negatif atau destruktif terhadap kepentingan sosial kemasyarakatan, maka untuk tidak mengatakan sebagai kesia-siaan, maka ia dapat dikatakan sebagai sebuah kebangkrutan agama. Nabi saw pernah menyinggung persoalan ini :
“Apakah anda tahu siapa orang yang bangkrut?. Para sahabat nabi mengatakan :orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak punya uang dan harta benda. Nabi bersabda : “Orang yang bangkrut dari kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan-amalan ibadah shalat, puasa dan zakat. Tetapi pada saat yang sama ia juga datang sebagai orang yang pernah mencacimaki orang lain, menuduh orang lain, makan harta orang lain, mengalirkan darah orang lain, memukul orang lain. Maka orang-orang lain tersebut (korban) akan diberikan pahala kebaikan dia (pelaku/al muflis). Ketika seluruh kebaikannya habis sebelum dia dapat menebusnya, maka dosa-dosa mereka (para korban) akan ditimpakan kepadanya (pelaku), kemudian dia akan dilemparkan ke dalam api neraka”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Tirmizi dari Abu Hurairah.
Dalam banyak teks agama disebutkan bahwa ibadah individual seperti shalat dapat dipercepat ketika dia mengetahui ada makmum yang lemah, orang tuan atau sakit. Nabi saw pernah bersabda :
“Jika seseorang menjadi imam shalat bagi orang lain, maka hendaklah mempercepat shalatnya, karena di antara para makmum boleh jadi ada orang yang lemah, orang yang sakit dan orang tua. Jika dia shalat sendirian maka ia berhak berlama-lama”.( Bukhari dan Muslim).(Nuzhah al Muttaqin, I/247).
Nabi juga pernah bersabda : Aku betul-betul ingin shalat berlama-lama. Tetapi aku kemudian mendengar tangisan seorang bocah. Maka aku segerakan shalatku karena aku tidak ingin menyusahkan ibunya”. (H. Bukhari).
Menegakkan keadilan lebih utama dari ibadah individual
Menciptakan kehidupan yang rukun dan damai dalam masyarakat, menegakkan hukum dan berlaku adil, dalam banyak teks keagamaan Islam adalah jauh lebih baik daripada ibadah individual. Nabi saw pernah menyampaikan :
“Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang lebih utama nilainya daripada nilai shalat puasa dan sedekah (zakat)?. Yaitu mendamaikan antar manusia, karena kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik antar mereka adalah kebinasaan agama”. (Al Munawi, Syarh Al Jami’ al Shaghir, I/197).
“Satu hari seorang pemimpin bertindak adil terhadap rakyatnya adalah lebih utama daripada orang yang beribadah selama 60 tahun”.(Hadits Abu Hurairah. Lihat : Al Sakhawi : Al Maqashid al Hasanah, hlm. 334).
Jihad (perjuangan) paling utama adalah menyampaikan pesan kebenaran kepada pemerintah yang zalim”.(Al Munawi, Syarh Al Jami’ al Shaghir, I/81). Dalam riwayat Thariq bin Syihab : “…. menyampaikan pesan keadilan di hadapan penguasa yang zalim”.(Kasyf al Khafa, I/154).
Dalam sebuah hadits disebutkan :
“Barangsiapa bangun di waktu pagi dan berniat menolong orang yang teraniaya dan memenuhi keperluan orang Islam baginya pahala yang sama dengan haji mabrur. Hamba Allah yang paling dicintai adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain (manusia) dan amal yang paling utama adalah memasukkan rasa bahagia pada
hati orang yang beriman menutup rasa lapar orang lain, membebaskannya dari kesulitan hidup atau membayarkan utangnya”. (Nashaih al Ibad hlm. 4).
Ibadah Sosial lebih luas
Dari Sumber-sumber Islam baik al Qur-an maupun hadits nabi saw diketahui bahwa dimensi pengabdian atau ibadah social dan kemanusiaan dalam Islam sesungguhnya jauh lebih luas dan lebih utama dibandingkan dengan dimensi ibadah personal. Dalam teks-teks fiqh klasik kita dapat melihat bahwa bidang Ibadat (ibadah personal) merupakan satu bagian dari banyak bidang keagamaan lain seperti mu’amalat madaniyah, Hukum Keluarga (al Ahwal al Syakhshiyyah), Jinayat (pidana), Qadha (peradilan) dan Imamah (politik). Dalam buku-buku hadits kita juga melihat bahwa bab ibadah personal jauh lebih sedikit dibanding bab-bab yang lain. Fath al Bari Syarh Shahih al Bukhari, sebuah kitab hadits paling populer, misalnya hanya mengupas persoalan ibadah dalam empat jilid dari dua puluh jilid yang menghimpun bab lainnya. Ini jelas menunjukkan bahwa perhatian Islam terhadap persoalan-persoalan publik jauh lebih besar dan lebih luas daripada perhatian terhadap persoalan-persoalan personal. Dalam sebuah kaedah fiqh disebutkan : “al Muta’addi afdhal min al Qashir”.(Amal ibadah yang membawa effek lebih luas lebih utama daripada amal ibadah yang membawa efek terbatas). Al Ghazali mengungkapkannya dengan bahasa : “al Naf’ al muta’addi a’zham min al naf’ al qashir”(ibadah yang memberi manfa’at yang menyebar lebih agung daripada ibadah yang membawa manfa’at kepada diri sendiri).(Bidayah al Hidayah, hlm. 34) Terhadap hal ini Abu Ishak al Syirazi dan Imam al Haramain mengatakan bahwa orang yang melaksanakan kewajiban kolektif (fardhu kifayah) acapkali memiliki nilai lebih ketimbang kewajiban individual (fardhu ‘ain) karena ia dapat membebaskan kesulitan banyak orang.(Al Suyuthi, Al Asybah wa al Nazhair, 99).
Akhirnya
Sesudah membaca meski serba sedikit keterangan di atas, maka ada tidak jalan lain bagi kaum muslimin terutama di Indonesia sekarang ini untuk melangkah lebih progresif melakukan aktifitas-aktifitas sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan sebagai bentuk perwujudan dari pengabdiannya kepada Tuhan. Kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan dan sejumlah krisis lain yang tengah menghimpit bangsa kita tampaknya tidak cukup hanya diatasi dengan melakukan ibadah-ibadah individual, tetapi juga dengan perjuangan meningkatkan kecerdasan masyarakat, penegakan hukum dan keadilan, solidaritas sosial dan membebaskan penderitaan masyarakat. Sejarah kehidupan kaum muslimin awal memperlihatkan kepada kita bahwa mereka tidak pernah melakukan dikotomisasi antara ibadah individual dan ibadah sosial. Malam-malam kaum muslimin generasi awal adalah malam-malam yang khusyuk dalam sujud dan membaca al Qur-an, sementara siang hari mereka adalah langkah-langkah gemuruh kaki kuda dan kerja-kerja kemanusiaan. Seluruh perjuangan untuk mewujudkan tatanan sosial yang adil dan menegakkan martabat kemanusiaan adalah ibadah, pengabdian kepada Tuhan. 

 Terima Kasih atas Kunjungannya
Semoga Bermanfaat ^_^
KEEP SUPPORT US... untuk pertanyaan dan komen silakan isi pada kolom di bawah
IGA DAEBAK THIS IS DAEBAK!!!
pls give us feedback dengan like atau komen terima kasih ^_^
enjoyy!!!


- Copyright © Iga Daebak Blog ! - Blogger -